Alpha School: Eksperimen yang Didukung Pemerintah dalam Pendidikan AI

10

Departemen Pendidikan AS secara diam-diam sedang menguji model sekolah baru yang radikal: Alpha School, sebuah “sekolah swasta bertenaga AI” yang mengklaim siswanya dapat menguasai mata pelajaran inti hanya dalam dua jam sehari, menggunakan kecerdasan buatan sebagai instruktur utama mereka. Meskipun konsepnya terdengar futuristik, kenyataannya lebih kompleks, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang dampak jangka panjang dari dikeluarkannya guru dari kelas.

Bangkitnya AI dalam Pendidikan

Sekolah Alpha bukanlah kasus yang terisolasi. Raksasa teknologi seperti OpenAI, Google, dan Anthropic dengan cepat mengintegrasikan alat AI ke dalam pendidikan—mulai dari dukungan ruang kelas hingga platform pembelajaran siswa. Namun Alpha School melangkah lebih jauh, memposisikan AI bukan sebagai pelengkap melainkan sebagai satu-satunya instruktur, penilai, dan administrator akademik. Pendiri sekolah tersebut, MacKenzie Price dan Joe Liemandt, menyatakan bahwa sekolah ini merupakan solusi disruptif bagi keluarga yang tidak puas dengan sekolah umum tradisional.

Cara Kerja Sekolah Alpha

Kurikulum K-12 di Alpha School dirancang oleh “ilmuwan pembelajaran terkenal di dunia,” menurut sekolah itu sendiri. Siswa menghabiskan dua jam setiap hari pada mata pelajaran inti, membaca dan matematika, dipandu oleh perangkat lunak berbasis AI. Sisa waktu didedikasikan untuk “pembangunan keterampilan praktis”—kewirausahaan, berbicara di depan umum, dan literasi keuangan—yang dilacak pada platform AI yang membuat rencana pembelajaran individual. “Pemandu” manusia ada tetapi tidak mengelola nilai atau kurikulum; peran mereka terbatas pada dukungan khusus, seperti instruksi tulisan tangan.

Modelnya mahal, dengan biaya kuliah berkisar antara $10,000 hingga $75,000 per tahun. Meskipun demikian, sekolah ini berencana untuk memperluas kampusnya ke puluhan lokasi pada tahun 2025, dengan kampus-kampus di pusat teknologi besar seperti Palo Alto, San Francisco, dan Brownsville, Texas. Program pembelajaran di rumah, Alpha Anywhere, juga tersedia.

Ilmu Pembelajaran AI: Apa yang Kita Ketahui?

Klaim bahwa AI dapat mempercepat pembelajaran belum didukung oleh bukti ilmiah yang meyakinkan. Beberapa orang tua yang mendaftarkan anak mereka di Sekolah Alpha melaporkan pengalaman negatif, dengan instruktur AI yang menetapkan tujuan yang tidak realistis dan kurang fleksibel dibandingkan guru manusia.

Para ahli pembelajaran juga skeptis. Hamsa Bastani, peneliti AI di Wharton School, Universitas Pennsylvania, menyatakan bahwa memisahkan hubungan manusia dengan pengajaran adalah hal yang “sangat memprihatinkan”. Randi Weingarten, presiden American Federation of Teachers, berpendapat bahwa sekolah yang sepenuhnya digerakkan oleh AI melanggar “prinsip inti upaya manusia dan pendidikan.”

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pembelajaran dengan bantuan AI dapat memberikan manfaat bagi siswa yang bermotivasi tinggi, namun dampaknya kecil terhadap nilai ujian. Penelitian lain menunjukkan bahwa chatbot AI dapat menghambat persepsi pembelajaran dan menghambat pemikiran kritis. Konsensus ilmiah mengenai chatbot yang dirancang secara universal, seperti ChatGPT, masih belum jelas.

Kurangnya Evaluasi

Mungkin aspek yang paling mengkhawatirkan dari Alpha School adalah kurangnya evaluasi terbuka. Tanpa penilaian manusia internal atau independen yang ketat, sistem ini berisiko melanggengkan desain AI yang buruk. Bastani menjelaskan bahwa ketidakhadiran ini “menyebabkan desain AI yang buruk secara umum.”

Tren yang Lebih Luas

Keberadaan Alpha School mencerminkan tren yang lebih besar: pemerintah AS dan perusahaan teknologi besar melihat AI sebagai solusi potensial terhadap sistem pendidikan yang terbebani secara berlebihan. Namun efek jangka panjang dari waktu menatap layar yang berlebihan dan AI Generatif terhadap pelajar muda masih belum diketahui.

Ilmu pengetahuan belum ada untuk mendukung peralihan besar-besaran ke pendidikan berbasis AI. Meskipun tutor AI yang dipersonalisasi mungkin memiliki potensi, menggantikan guru manusia sepenuhnya merupakan sebuah pertaruhan dengan konsekuensi yang berpotensi parah bagi masa depan pembelajaran.