Artis Menuduh Perusahaan AI Mencuri Hak Cipta dalam Surat Terbuka

19
Artis Menuduh Perusahaan AI Mencuri Hak Cipta dalam Surat Terbuka

Lebih dari 800 seniman, termasuk Scarlett Johansson dan Cate Blanchett, secara terbuka menuduh perusahaan teknologi besar menggunakan karya berhak cipta mereka secara ilegal untuk melatih model kecerdasan buatan (AI). Aksi kolektif ini, yang diorganisir oleh gerakan “Mencuri Bukanlah Inovasi” dari Kampanye Seni Manusia, menuntut kemitraan yang etis dan bukannya pengumpulan data yang tidak sah.

Inti Sengketa

Surat itu mengecam pengembang AI karena membangun platform berdasarkan kekayaan intelektual curian. Perusahaan dituduh mengeksploitasi kreativitas penulis, musisi, aktor, dan artis lainnya tanpa persetujuan atau kompensasi. Praktik ini telah memicu sekitar 60 tuntutan hukum yang sedang berlangsung di AS saja, dan perselisihan hukum serupa juga terjadi di Eropa.

Masalah mendasarnya adalah bagaimana model AI dilatih. Sistem ini memerlukan kumpulan data yang sangat besar – termasuk teks, gambar, musik, dan video – untuk mempelajari dan menghasilkan konten baru. Banyak dari data ini dikumpulkan dari internet tanpa izin jelas dari pemegang hak cipta. Perusahaan-perusahaan AI mengklaim bahwa hal ini termasuk dalam kategori “penggunaan wajar”, ​​sementara para pencipta berpendapat bahwa pelanggaran terang-teranganlah yang mengancam pendapatan dan kekayaan intelektual mereka.

Taruhannya bagi Kreator

Konflik yang terjadi bukan hanya soal teknis hukum; ini tentang masa depan industri kreatif. Sektor kreatif AS adalah penggerak ekonomi yang signifikan, menghasilkan lapangan kerja, pertumbuhan, dan ekspor. Para seniman khawatir bahwa pelatihan AI yang tidak diawasi akan merendahkan nilai karya mereka, sehingga mempersulit mereka untuk mempertahankan karier.

Situasi ini menyoroti ketegangan kritis antara inovasi dan undang-undang hak cipta. Meskipun AI menawarkan alat-alat baru yang canggih, metode memperoleh data pelatihan semakin mendapat sorotan.

Eskalasi Terkini

Perselisihan ini baru-baru ini muncul ketika OpenAI menghadapi kritik setelah fitur suara AI-nya sangat mirip dengan suara Scarlett Johansson dari film “Her” tahun 2013. Tim hukum Johansson turun tangan dan memaksa OpenAI untuk menangguhkan opsi suara serupa. Insiden ini menggarisbawahi dampak nyata dari pelatihan AI tanpa izin.

Surat ini menjadi peringatan keras: jika perusahaan teknologi tidak mengatasi masalah hak cipta, tantangan hukum lebih lanjut dan reaksi publik tidak dapat dihindari.

Pada akhirnya, situasi ini memaksa kita untuk memperhitungkan etika dan legalitas pengembangan AI. Masa depan industri kreatif mungkin bergantung pada apakah perusahaan AI memilih kolaborasi atau eksploitasi berkelanjutan.