Seorang pemain baru telah memasuki arena teknologi pertahanan dengan misi yang jelas, namun kontroversial: mengajarkan kecerdasan buatan cara bernavigasi dan berperang dalam kekacauan perang. Scout AI, sebuah startup yang didirikan pada tahun 2024 oleh Colby Adcock dan Collin Otis, telah mengumumkan putaran pendanaan Seri A senilai $100 juta yang dipimpin oleh Align Ventures dan Draper Associates.
Perusahaan yang menggambarkan dirinya sebagai “laboratorium pertahanan terdepan” ini tidak membuat perangkat keras seperti tank atau truk. Sebaliknya, mereka justru membangun “otak”—sebuah lapisan perangkat lunak canggih yang dirancang untuk mengubah aset militer yang ada menjadi agen otonom yang mampu mengambil keputusan yang rumit.
Зміст
Dari Logistik hingga Kematian: Model “Fury”.
Inti dari strategi Scout AI adalah “Fury”, sebuah model AI yang dirancang untuk memimpin aset militer. Perusahaan mengikuti strategi penerapan bertahap:
1. Tahap Pertama: Logistik. Menggunakan kendaraan otonom untuk menangani tugas-tugas yang “membosankan, kotor, atau berbahaya”, seperti mengangkut air dan amunisi ke pos-pos terpencil.
2. Fase Kedua: Pertempuran. Transisi menuju sistem senjata otonom dan drone pengintai.
Untuk mencapai hal ini, Scout menggunakan model Vision Language Action (VLA). Tidak seperti Model Bahasa Besar (LLM) standar yang utamanya memproses teks, VLA menggabungkan persepsi visual dengan kemampuan untuk melakukan tindakan fisik. CTO Collin Otis membandingkan proses ini dengan melatih seorang prajurit: daripada memulai dari awal, mereka mengambil model “kecerdasan luas” dan menyempurnakannya menjadi “AGI militer” (Kecerdasan Umum Buatan) khusus melalui pengalaman dunia nyata.
Pendekatan “Bootcamp”: Pelatihan di Tanah
Tidak seperti banyak perusahaan AI yang melatih model mereka di pusat data steril, Scout AI mengandalkan pembelajaran penguatan fisik. Pada rangkaian pelatihan intensitas tinggi di California tengah, perusahaan menggunakan kendaraan segala medan (ATV) untuk menjembatani kesenjangan antara logika digital dan kenyataan pahit.
- Kompleksitas Dunia Nyata: Meskipun mobil self-driving di perkotaan beroperasi di jalan yang telah dipetakan dan dapat diprediksi, model Scout harus melewati jalur yang tidak ditandai, pasir lepas, dan bukit yang curam.
- Putaran Umpan Balik: Pengemudi manusia mengoperasikan kendaraan selama delapan jam shift. Saat AI kesulitan, manusialah yang mengambil alih; “intervensi” ini dicatat dan digunakan untuk melatih ulang model, mengajarkannya untuk menangani ketidakpastian dengan lebih baik.
- Tujuan Skala: Scout percaya bahwa kecerdasan sejati berasal dari interaksi dengan dunia fisik, bukan hanya membaca internet. Dengan menggunakan armada kendaraan militer AS yang sangat banyak sebagai tempat pengujian, mereka bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan mereka lebih cepat dibandingkan laboratorium yang hanya berfokus pada AGI digital.
Menjembatani Kesenjangan dalam Peperangan Modern
Pergerakan menuju otonomi didorong oleh pergeseran dalam pertempuran modern, yang ditandai dengan konflik baru-baru ini di Ukraina. Pakar militer mencatat bahwa meskipun manusia dapat mengoperasikan drone secara individu, mereka tidak dapat melakukan skala secara efektif untuk melawan “gerombolan” sistem tak berawak yang berbiaya rendah.
Visi Scout mencakup platform “quarterback” : drone berkomputasi tinggi yang memimpin sekelompok drone amunisi khusus yang lebih kecil. Kawanan ini dapat secara mandiri mencari sasaran—seperti tank musuh—dan menyerang mereka, sehingga memberikan tingkat presisi yang tidak dapat ditandingi oleh artileri tradisional.
“Orang-orang AI tidak ingin bekerja dengan militer,” kata Otis, menyoroti kesenjangan yang semakin besar antara pembatasan AI yang “etis” di Silicon Valley dan persyaratan operasional Pentagon.
Perbatasan yang Etis dan Strategis
Meskipun prospek senjata otonom sering kali memicu perdebatan politik yang intens, kepemimpinan Scout menekankan upaya perlindungan yang berpusat pada manusia. Mereka berpendapat bahwa sistem mereka dapat diprogram dengan parameter yang ketat, seperti hanya menyerang target dalam zona tertentu atau memerlukan konfirmasi manusia sebelum menembak.
Selain itu, mereka berpendapat bahwa sistem otonom menawarkan keuntungan taktis dengan menghilangkan ketakutan dan keraguan manusia, sehingga berpotensi mengurangi kesalahan yang disebabkan oleh stres di lingkungan bertekanan tinggi.
Kesimpulan: Scout AI memposisikan dirinya sebagai lapisan intelijen penting untuk masa depan pertahanan, dan yakin bahwa kemampuan untuk menggabungkan penalaran maju dengan otonomi dunia nyata yang kuat akan membuat mereka sangat diperlukan oleh militer A.S.





























