Bayangan Trump Membayangi Davos Saat Para Pemimpin Dunia Bersiap Menghadapi Dampaknya

8

Pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, sedang berlangsung, namun pertemuan tahun ini didominasi oleh kegelisahan seputar potensi dampak kebijakan pemerintahan Trump dan perilaku yang tidak dapat diprediksi. Alih-alih fokus pada kerja sama global dan kemajuan ekonomi, banyak peserta bersiap menghadapi minggu yang penuh gejolak ini, dengan perkembangan penting yang diharapkan dari Gedung Putih dan pengadilan AS.

Iklim Ketidakpastian

Para CEO dan politisi internasional secara pribadi menyuarakan keprihatinan atas keputusan kebijakan luar negeri Presiden Trump yang semakin tidak menentu. Diskusi seputar sengketa Greenland—upaya Trump yang terus-menerus untuk memperoleh wilayah tersebut dari Denmark—telah memicu kecemasan di kalangan pejabat Eropa, dan beberapa di antaranya bersiap menghadapi potensi peningkatan perdagangan. Salah satu CEO dengan sinis mengomentari perlunya “bersikap ringan” ketika berinteraksi dengan presiden, dan menyoroti kesulitan yang harus dihadapi oleh banyak pemimpin.

Suasananya sangat berbeda dengan misi yang dinyatakan forum tersebut, yakni membina kolaborasi internasional. Delegasi AS tidak menunjukkan minat terhadap kerja sama tersebut, dan lebih memprioritaskan pendekatan unilateral yang membuat sekutu-sekutunya merasa gelisah.

Masalah Utama dalam Tabel

Dua peristiwa besar akan semakin menentukan minggu ini:

  • Keputusan Mahkamah Agung mengenai Tarif: Keputusan mengenai legalitas tarif utama Trump diperkirakan akan diambil pada hari Selasa, dengan potensi dampak signifikan terhadap perdagangan global.
  • Pidato Trump di Davos: Presiden dijadwalkan untuk berbicara pada hari Rabu, sebuah peristiwa yang diantisipasi banyak orang dengan rasa gentar dan bukannya kegembiraan.

Pengakuan BlackRock atas Hilangnya Kepercayaan

Menambah perasaan krisis, ketua BlackRock Larry Fink—ketua sementara Forum Ekonomi Dunia—mengakui bahwa organisasi tersebut telah kehilangan kepercayaan publik. Dalam pidato pembukaannya, ia menyerukan perubahan signifikan, termasuk menghadirkan suara-suara baru dan kemungkinan memindahkan acara dari Davos ke kota-kota lain. Pengakuan ini menggarisbawahi semakin terkikisnya kepercayaan terhadap kemampuan forum tersebut dalam mengatasi tantangan-tantangan global yang mendesak.

Lingkungan saat ini bukanlah tentang perbaikan bertahap; ini tentang perubahan mendasar dalam dinamika kekuasaan dan evaluasi ulang asumsi lama mengenai kerja sama internasional.

Situasi di Davos mencerminkan tren peningkatan ketidakstabilan geopolitik dan meningkatnya dominasi agenda nasionalis. Forum tersebut, yang dahulu dipandang sebagai mercusuar globalisme, kini tampaknya bergulat dengan ketidakrelevanannya di dunia yang dibentuk kembali oleh kepemimpinan yang tidak dapat diprediksi.

Hari-hari mendatang akan menentukan apakah Davos dapat beradaptasi dengan kenyataan baru ini, atau apakah hal ini akan terus menjadi simbol tatanan yang memudar.