Kerentanan Strategis Eropa: Risiko Tersembunyi dari Ketergantungan Cloud AS pada Pertahanan

17

Sebuah analisis baru yang dilakukan oleh Future of Technology Institute (FOTI) yang berbasis di Brussels telah mengeluarkan peringatan keras: sebagian besar infrastruktur pertahanan nasional Eropa sangat bergantung pada penyedia cloud yang berbasis di AS. Ketergantungan ini menciptakan risiko “tombol mematikan” geopolitik, di mana Washington berpotensi mengganggu operasi militer melalui mandat hukum atau sanksi ekonomi.

Mekanisme “Tombol Pembunuh”.

Inti kekhawatirannya terletak pada kendali hukum dan teknis yang dimiliki raksasa teknologi AS atas infrastruktur mereka. Berdasarkan US CLOUD Act, pemerintah Amerika mempunyai wewenang untuk memanggil data yang disimpan oleh perusahaan-perusahaan Amerika, di mana pun data tersebut berada.

Selain itu, meskipun data tetap bersifat pribadi, ketergantungan teknis pada penyedia layanan di AS menciptakan kerentanan yang sangat besar. Karena sistem cloud militer memerlukan pembaruan dan pemeliharaan terus-menerus dari penyedia, penerapan sanksi AS dapat secara efektif “mematikan” layanan pertahanan penting.

“Semacam risiko mematikan dari Amerika Serikat tidak lagi menjadi semacam diskusi teoretis,” kata Cori Crider, Direktur Eksekutif FOTI. “Ini adalah risiko nyata yang tidak bisa lagi diabaikan oleh Eropa.”

Studi ini mengutip dua preseden terkini untuk menggambarkan risiko ini:
Preseden Hukum: Pada tahun 2025, Microsoft dilaporkan memblokir akun kepala jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menyusul sanksi AS.
Preseden Operasional: Maxar Technologies dilaporkan membatasi akses citra satelit untuk Ukraina setelah AS menghentikan pembagian intelijen.

Memetakan Risiko: Siapa yang Paling Rentan?

Studi FOTI mengkategorikan negara-negara Eropa berdasarkan tingkat keterpaparan mereka terhadap teknologi AS:

🔴 Resiko Tinggi (Ketergantungan Langsung)

Enam belas negara dianggap sangat rentan karena mereka bergantung langsung pada layanan cloud AS yang tidak “air-gapped” (terisolasi secara fisik dari internet global). Sistem ini tetap terikat pada penyedia AS untuk pembaruan dan pemeliharaan perangkat lunak penting.
* Negara: Kroasia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Jerman, Hongaria, Irlandia, Latvia, Lituania, Polandia, Portugal, Rumania, Slovakia, Slovenia, dan Inggris Raya.

🟡 Risiko Sedang (Ketergantungan Tidak Langsung)

Tujuh negara menghadapi risiko menengah karena, meskipun mereka menggunakan kontraktor Eropa, kontraktor tersebut membangun sistem mereka menggunakan teknologi “hiperscaler” AS.
* Negara: Belgia, Prancis, Yunani, Italia, Luksemburg, Spanyol, dan Belanda.

🟢 Yang Terpencil

  • Austria: Saat ini satu-satunya negara yang diidentifikasi benar-benar merdeka. Kementerian Pertahanan Austria telah beralih ke alternatif sumber terbuka seperti NextCloud dan LibreOffice, sehingga memindahkan ribuan workstation dari ekosistem Microsoft.
  • Belanda: Meskipun saat ini berada pada risiko sedang, Belanda berupaya memimpin Eropa menuju solusi “berdaulat” melalui kemitraan antara Kementerian Pertahanan, KPN, dan Thales untuk membangun cloud yang independen terhadap penyedia layanan AS.

Ilusi “Awan Berdaulat”

Menanggapi meningkatnya tuntutan Eropa akan otonomi teknologi, raksasa seperti Amazon (AWS), Google, dan Microsoft telah meluncurkan opsi “cloud berdaulat”. Layanan ini mengklaim menyimpan data di UE dan mematuhi peraturan setempat.

Namun, para peneliti FOTI bersikap skeptis dan menyebut penawaran ini sebagai “sovereign-washing.” Argumennya adalah meskipun datanya mungkin tetap berada di Eropa, perangkat lunak yang mendasarinya dan kemampuan untuk memeliharanya masih berada di tangan perusahaan-perusahaan AS. Jika terjadi keretakan geopolitik, perusahaan-perusahaan ini secara hukum tidak dapat menyediakan pembaruan yang diperlukan untuk menjaga sistem tetap berjalan.

Mengapa Ini Penting bagi Keamanan Eropa

Ketergantungan ini menyoroti ketegangan mendasar dalam peperangan modern: efisiensi teknologi versus otonomi strategis. Meskipun penyedia cloud AS menawarkan skala dan kemampuan canggih yang tak tertandingi, mereka juga mengekspor pengaruh hukum dan politik Amerika langsung ke jantung kementerian pertahanan Eropa.

Ketika operasi militer semakin terdigitalisasi, kemampuan untuk beroperasi tanpa izin dari kekuatan asing menjadi landasan kedaulatan nasional.


Kesimpulan: Eropa menghadapi dilema strategis yang signifikan karena ketergantungannya pada teknologi cloud AS memberikan kemampuan tingkat lanjut namun secara bersamaan menciptakan satu titik kegagalan yang dapat dieksploitasi selama konflik geopolitik.